Hutan Lengkara bukan sekadar kumpulan pohon tua berlumut; ia adalah perpustakaan bernapas yang menyimpan ribuan kenangan yang terlupakan dunia. Kael menyibak semak belukar yang basah oleh embun, melangkah semakin jauh ke dalam kegelapan hijau yang pekat. Udara di sana terasa dingin dan berat, bertumpuk aroma tanah basah, getah damar, dan bau manis samar dari bunga-bunga liar yang tak dikenal nama ilmiahnya. Ia datang membawa satu misi penuh keputusasaan: mencari Bunga Lintang, kelopak ajaib yang konon mampu mengembalikan ingatan ibunya yang perlahan tergerus usia.
Orang-orang desa selalu memperingatkan agar tidak pernah menginjakkan kaki ke Lengkara saat kabut membiru turun dari puncaknya. Mereka bilang, hutan itu bisa menyesatkan pikiran dan mengurung siapa saja dalam ilusi tak bertepi. Namun, Kael tidak peduli. Dengan lentera tembaga di tangan kanan dan kompas tua yang jarumnya kini berputar liar tanpa arah, ia terus menembus keheningan yang mencekam.
Malam semakin larut ketika nada-nada gaib itu dimulai. Bukan cicit burung hantu atau kerisik angin biasa, melainkan bisikan bernada rendah yang seolah bergema langsung dari dalam rongga tanah. Kael tertegun. Ia berlutut di atas hamparan lumut tebal yang kenyal, perlahan meletakkan telapak tangannya ke permukaan bumi. Seketika, tanah di bawah jemarinya berdenyut pelan, hangat bagaikan ritme jantung raksasa yang tertidur.
Dari balik pepohonan purba bertubuh menjulang, cahaya keemasan lembut mulai merembes. Bunga Lintang mekar di tengah lingkar akar pohon paling tua. Namun, saat Kael mendekat dan mengulurkan tangan, cabang-cabang berduri di sekitarnya mendadak bergerak hidup, menjalin perisai kokoh yang tak tertembus.
"Bunga ini tidak bisa dipetik dengan paksaan," sebuah suara berdesir halus dari arah pepohonan, berbaur dengan dedaunan yang bergesekan. "Ia menyerap kenangan paling berharga sebagai pengganti keajaiban yang kau minta."
Kael menarik tangannya, terpaku dalam keraguan. Untuk menyelamatkan ingatan ibunya, haruskah ia menyerahkan bagian dari dirinya sendiri? Ia memejamkan mata, mengingat tawa ibunya di bawah sinar matahari hangat bertahun-tahun lalu. Tanpa rasa takut, ia merelakan kenangan terindahnya mengalir masuk ke dalam akar Lengkara.
Perisai duri melunak dan merunduk pelan. Kelopak emas Bunga Lintang mekar sempurna di telapak tangannya, memancarkan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Kael tersenyum tipis. Hutan Lengkara bukan tempat yang jahat, melainkan penjaga rahasia alam yang hanya meminta ketulusan dari siapa pun yang bertandang.