Suara Pertama Sebelum Sunyi

 


Matahari hari itu berhenti tepat di atas kepala, dan ia menolak untuk bergerak turun selama empat puluh delapan jam. Tidak ada malam yang datang memeluk bumi, hanya warna jingga keunguan yang pekat, lengket, dan tergantung kaku di langit bagai lukisan cat minyak tua yang tak kunjung kering. Di radio, suara penyiar yang biasanya hangat mengisi pagi hari telah berganti menjadi dengung frekuensi rendah—sebuah nada tunggal bergelombang yang menggetarkan kaca-kaca jendela setiap tiga detik sekali.

Dunia tidak hancur dalam semalam dengan ledakan dahsyat atau dentuman dahsyat seperti dalam cerita fiksi ilmiah. Hari-hari menjelang kiamat justru dimulai dengan keheningan yang ganjil, pergeseran-pergeseran halus pada hukum alam yang membuat manusia perlahan sadar bahwa waktu peradaban mereka telah habis.

Harris duduk di anak tangga teras depan rumahnya, menatapi jalanan komplek perumahan yang biasanya riuh oleh gelak tawa anak-anak bersepeda dan lalu lalang kendaraan. Kini, aspal hitam itu lengang. Tetangganya yang tinggal tepat di seberang rumah, Pak Usman, tampak sedang menyiram tanaman krisan di pekarangannya untuk terakhir kali. Air dari selang itu mengalir pelan dengan pendar warna keemasan yang tak lazim. Tidak ada panik atau teriakan histeris lagi di hari ketiga ini. Gelombang ketakutan massa telah surut bersamaan dengan habisnya stok bahan makanan di supermarket pada dua puluh empat jam pertama. Sekarang, yang tersisa di udara hanyalah kepasrahan yang amat pekat.

"Ayah, kenapa burung-burung itu tidak mau berhenti terbang?" tanya Maya, putrinya yang berusia delapan tahun, sambil menarik pelan ujung kemeja Harris.

Harris mengangkat wajahnya. Di atas mereka, ribuan burung gereja, merpati, hingga gagak hitam terbang membentuk lingkaran spiral raksasa yang tak terputus. Mereka tidak bersuara, tidak mengepakkan sayap dengan tergesa, dan tidak pula hinggap di atap rumah. Mereka hanya terus berputar di angkasa, seolah-olah kompas batin dan arah mata angin dalam tubuh mereka telah terhapus total oleh perubahan magnet bumi.

"Mereka cuma sedang mengheningkan cipta, Maya," bisik Harris pelan sembari mengusap lembut kepala putrinya. Sebuah kebohongan kecil yang halus, sebab Harris sendiri tidak tahu kalimat apa lagi yang pantas diucapkan kepada seorang anak kecil ketika langit mulai menampakkan retakan cahaya secara visual.

Di kejauhan, tepat di atas batas ufuk, memancar garis-garis cahaya putih tegak lurus yang melesat dari permukaan tanah menuju kegelapan angkasa. Lautan di kota pesisir yang berjarak sepuluh kilometer dari rumah mereka, menurut siaran darurat terakhir sebelum pemancar internet mati total, telah menyusut sejauh belasan mil. Air laut itu tidak menggulung kembali sebagai gelombang tsunami yang menakutkan; air itu seolah-olah menguap begitu saja, terangkat oleh gaya gravitasi baru yang tak kasat mata.

Sarah, istri Harris, melangkah keluar dari pintu utama membawa tiga cangkir teh hangat yang asapnya membubung tipis. Langkah kakinya perlahan, meski garis matanya tampak sembap karena tangis yang ditahannya sejak semalam. Ia duduk di samping Harris, menaruh cangkir-cangkir kayu itu di atas meja, lalu menggenggam erat jemari suaminya.

"Aliran listrik benar-benar padam di seluruh benua," ujar Sarah dengan suara bergetar namun tenang. "Kompor gas di dapur juga tidak bisa menyala lagi. Tekanan udaranya terasa sangat berat."

"Tidak apa-apa, Sayang," sahut Harris sembari mengukir senyum tipis di bibirnya. "Teh ini sudah lebih dari cukup untuk menemani kita."

Mereka bertiga duduk berdampingan dalam bisu, menikmati hangatnya porselen cangkir di telapak tangan masing-masing. Di sekeliling mereka, dedaunan pohon mangga di pekarangan tak lagi bergoyang. Angin telah berhenti berembus sejak fajar tadi. Udara di sekitarnya terasa murni, padat, dan sangat bersih—seolah-olah bumi sedang membasuh dirinya sendiri sebelum panggung pertunjukan ini benar-benar ditutup.

Tiba-tiba, sebuah getaran halus beresonansi dari kedalaman perut bumi. Getaran itu tidak meretakkan dinding rumah atau merubuhkan tiang listrik, melainkan merambat naik melewati telapak kaki, menjangkau hingga ke dalam rongga dada setiap manusia. Itu bukan gempa bumi biasa. Itu adalah detak jantung planet ini yang melambat untuk terakhir kalinya.

Di atas kepala mereka, warna jingga di langit perlahan terkelupas bagai kain kanvas tua, menampakkan kegelapan abadi yang bertabur bintang-bintang raksasa—padahal jam tangan Harris masih menunjukkan pukul dua siang. Bintang-bintang di angkasa berkedip sangat terang selama beberapa detik, sebelum akhirnya satu per satu padam bagai lilin yang ditiup dari kejauhan.

Maya merapatkan tubuh kecilnya ke dalam pelukan Sarah. Sarah memejamkan mata rapat-rapat sambil merengkuh putrinya penuh kasih, sementara Harris menatap lurus ke depan, menyaksikan perlahan terbenamnya peradaban manusia. Tidak ada lagi rasa takut yang tersisa di dalam hatinya, hanya kepasrahan yang megah dan rasa syukur yang mendalam karena di detik-detik akhir yang paling hening ini, ia berada bersama orang-orang yang paling ia cintai.