Atap seng di bawah tubuh mereka bergetar hebat, seperti lembaran kertas tebal yang hendak dikoyak dari bawah. Gerimis yang menyiram wajah Rizal tak lagi sanggup mendinginkan kepalanya yang membara. Demam tinggi membuat pandangannya berbayang; setiap kali ia berkedip, bayangan wajah-wajah kaku dengan mata keruh seolah menempel tepat di depan selaput matanya.
TAK! TAK! KRRAK!
Batako paling atas yang menindih palka kayu tergeser sepuluh sentimeter. Dari celah sempit yang terbuka, jemari kaku dengan kuku-kuku hitam terangkat, mencengkeram pinggiran kerangka atap. Suara geraman teredam berbaur dengan dengung ribuan lalat daging yang ikut beterbangan di sekitar atap, merayakan bau darah segar dan nanah dari luka di kaki Rizal.
"Mas! Batakonya geser! Mereka numpuk di bawah tangga!" jerit Aji. Tangannya gemetar hebat saat berusaha menahan palka menggunakan ujung linggis, tetapi tekanan dari bawah terlalu kuat. Puluhan bangkai malas di dalam ruko saling panjat, menggunakan tubuh sesama mereka sebagai pijakan untuk mencapai satu-satunya sumber cahaya dan aroma kehidupan.
"Jangan ditahan! Cuma buang tenaga lu!" Rizal terbatuk, meludahkan cairan pahit bercampur darah dari bibirnya yang pecah-pecah. Ia memaksa tubuhnya bangkit. Kaki kirinya sudah tak terasa seperti bagian dari tubuhnya lagi—hanya bongkahan daging berat beracun yang memancarkan rasa sakit berdenyut-denyut hingga ke pangkal paha.
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dalam kegelapan malam yang dibasahi hujan. Ruko mereka adalah bangunan paling ujung di deretan itu. Di sebelah kiri hanya ada lorong sempit yang tergenang air got hitam, sementara di seberangnya berdiri ruko bekas klinik gigi berlantai dua dengan balkon terbuka. Jarak antar atap sekitar tiga meter—terlalu jauh untuk orang lumpuh sepertinya, tetapi terlalu dekat untuk jadi tempat mati.
BRAG!
Palka kayu itu akhirnya pecah berkeping-keping. Batako terakhir meluncur jatuh ke dalam lubang, disusul oleh mencuatnya dua kepala mayat hidup secara bersamaan. Salah satunya adalah mayat bergaun merah kotor yang separuh pipinya telah habis ditiup belatung. Wajah itu terangkat, mulutnya menganga memamerkan gusi tanpa gigi, menyemburkan bau busuk yang melebihi aroma bangkai pasar.
Aji menjerit, mengayunkan linggisnya secara liar. Ujung besi menancap di leher mayat bergaun merah, tetapi berat tubuh makhluk itu justru menarik linggis Aji hingga terlepas dari genggamannya.
"Mundur, Ji!"
Rizal merangsek maju dengan sisa tumpuan kaki kanannya. Pipa besi di tangannya dihantamkan sejajar menyamping, mematahkan rahang mayat kedua hingga terkulai. Namun, dari lubang palka yang terbuka lebar, tangan-tangan lain terus bermunculan bagaikan akar-akar hitam yang keluar dari dalam tanah.
Lebih buruk lagi, gelombang massa di dalam ruko membuat besi penyangga atap seng mulai menyerah. Suara besi tertekuk bergema nyaring. KREEEEK! Bagian tengah atap seng tempat mereka berdiri mendadak melengkung ke bawah, menciptakan cekungan berbahaya yang siap menelan mereka bulat-bulat ke dalam sarang bangkai di bawahnya.
"Bawa jerikennya! Kita melompat ke balkon seberang!" perintah Rizal. Suaranya serak, tenggorokannya bagai diampelas.
"Tapi Mas... kaki lu gimana?!" Aji menatap Rizal dengan mata melebar ketakutan. Jeriken solar merah sudah melekat di punggungnya, sementara tas kain berisi garam dicengkeram erat di dada.
"Kalau lu kagak melompat sekarang, kita berdua jadi bubur di bawah! Jalan!" teriak Rizal sambil mengayunkan pipa besinya sekali lagi, menghantam jemari mayat yang berusaha merayap keluar dari celah seng yang robek.
Aji menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia mundur tiga langkah ke tepi atap yang paling tinggi, menghirup napas basah dalam-dalam, lalu berlari sekuat tenaga. Tubuh kecilnya melayang melintasi kegelapan malam, memotong garis-garis hujan, sebelum akhirnya mendarat keras di atas keramik balkon ruko seberang.
BUK!
Aji terseret satu meter, lututnya menghantam dinding kaca, tetapi ia berhasil bertahan. Ia segera berbalik, merayap ke tepi pembatas balkon besi yang berkarat. "Mas Rizal! Ayo! Lempar pipanya dulu!"
Atap seng di bawah Rizal kembali ambles sepuluh sentimeter. Lubang besar menganga di tengah-tengahnya. Dari dalam lubang itu, belasan kepala dan dada mayat hidup saling berdesakan, menggapai-gapai pakaian Rizal. Pipa besi di tangan Rizal dihantamkan ke bawah berkali-kali tanpa arah, memecahkan tengkorak dan meremukkan jemari, tetapi jumlah mereka tak berkurang.
Rizal tahu, ia tidak akan punya kesempatan untuk mengambil ancang-ancang. Kaki kirinya sudah mati rasa total.
Ia membuang pipa besinya ke dalam lubang, membiarkan ujung runcingnya menembus mata salah satu mayat. Dengan pandangan yang makin memburam dan napas yang tertahan di dada, Rizal menyeret kakinya yang sakit dua langkah ke belakang, lalu menolak tanah menggunakan seluruh kekuatan di kaki kanannya.
Ia melompat secara buta ke dalam kegelapan.
Dunia seolah melambat. Udara dingin membanting tubuhnya, hujan menyapu matanya yang terbuka lebar. Di bawahnya, di dalam gang sempit yang gelap, belasan bangkai mendongak, mendesis saat melihat bayangan manusia melayang di atas kepala mereka.
Rizal tidak mencapai lantai balkon.
Tubuhnya meluncur terlalu rendah. Dada dan perutnya menghantam keras besi pembatas balkon. Brak! Benturan itu begitu kuat hingga membuat napas Rizal terhenti seketika, matanya mendelik menahan sakit yang luar biasa. Tubuhnya meluncur ke bawah, bergantung hanya pada kedua tangannya yang mencengkeram pembatas besi licin berkarat.
Di bawah, jarak kakinya hanya dua meter dari raihan tangan-tangan kaku yang mulai berkumpul di bawah balkon.
"Mas! Pegang tangan gua!"
Aji tiarap di lantai balkon, mengulurkan kedua tangannya yang kurus. Wajah anak itu merah padam, urat-urat lehernya menegang menahan beban situasi.
Rizal menggerakkan tangannya yang gemetar, meraih pergelangan tangan Aji. Licin oleh air hujan dan minyak tanah, pegangan mereka hampir terlepas. Rizal memaksakan diri memanjat, memusatkan sisa tenaga di lengan atasnya sementara Aji menariknya dengan raungan histeris.
SRREKK!
Satu sentimeter demi satu sentimeter, tubuh Rizal terangkat melintasi pembatas besi. Mereka berdua jatuh bergulingan di atas lantai keramik balkon yang dingin, napas mereka memburu bagaikan mesin rusak yang dipaksa bekerja.
Belum sempat mereka merayakan helaan napas itu, pintu kaca sliding balkon di belakang mereka bergetar. Dari balik tirai kain yang sudah menghitam karena jamur, sesosok figur jangkung menerobos keluar.
Itu adalah bekas pemilik klinik—seorang pria berjas putih lusuh yang lehernya sudah bolong dihantam luka lama. Tangan mayat itu mengayun cepat, mencakar bahu jaket Aji hingga kainnya robek.
Aji tidak menjerit kali ini. Rasa takut yang menumpuk sejak semalam mendadak berubah menjadi kemarahan liar. Dengan gerak refleks yang brutal, Aji meraih botol minyak kayu putih dari saku jaket Rizal yang tergeletak di lantai, lalu menghantamkan bagian bawah botol kaca itu tepat ke mata mayat tersebut.
PRANG!
Botol kaca pecah. Cairan minyak kayu putih yang pekat dan beraroma tajam menyembur masuk ke dalam luka terbuka di wajah dan mata mayat itu. Reaksi kimia kasar itu membuat mayat itu tersentak kaku, kepalanya terlempar ke belakang karena refleks jaringan saraf mati yang terbakar.
Memanfaatkan momen seribu detik itu, Aji memungut sepotong besi siku bekas jemuran di sudut balkon, lalu menghantamkannya lurus ke leher bagian atas mayat itu hingga terdengar bunyi KRAK yang renyah.
Mayat jangkung itu roboh terlentang, tidak lagi bergerak.
Aji berdiri gemetar di atas pecahan kaca dan genangan minyak kayu putih. Tangannya yang berdarah karena goresan kaca meneteskan darah segar ke lantai keramik.
Di sebelahnya, Rizal terbaring lemas. Demamnya telah mencapai puncak. Ia menatap Aji dengan mata yang setengah tertutup, menyaksikan bagaimana anak laki-laki yang tadinya takut pada bayangan sendiri kini berdiri tegak di atas bangkai.
"Aji..." bisik Rizal pelan, hampir tak terdengar di antara deru hujan yang makin lebat.
Aji berjongkok di samping Rizal, menyapu air hujan dari wajah seniornya itu. "Gua di sini, Mas. Kita berhasil. Garamnya aman, solarnya aman."
Rizal memejamkan mata sejenak, merasakan dinginnya lantai keramik di punggungnya dan bau minyak kayu putih yang menyengat di udara basah. Ruko mereka sudah hilang ditelan kegelapan dan mayat hidup, tetapi malam ini, di atas balkon klinik tua yang asing, mereka berhasil merebut kembali hak untuk bernapas satu hari lagi.
