Lalat Daging Tak Pernah Tidur

Suara hujan di atas atap seng terdengar seperti beribu-ribu beras ketan yang ditumpahkan bersamaan. Rizal menunduk, menggosok sol sepatu botnya dengan kain perca yang direndam karbol murah. Bau pemutih kain dan bangkai membusuk sudah lama menyatu dalam hidungnya, menciptakan satu aroma tunggal yang ia sebut sebagai bau hari esok.

Di sudut ruangan toko kelontong yang jendelanya telah ditutup triplek tebal, Aji sedang sibuk dengan radio transistor warna merah. Radio itu sudah mati sejak tiga tahun lalu ketika stasiun pemancar di Jababeka terbakar, tetapi Aji tetap saja memutar-mutar knopnya setiap sore, seolah-olah gelombang AM bisa mendadak memuntahkan suara manusia hanya karena ia merindukannya.

"Garamnya habis, Mas," kata Aji tanpa menoleh. "Tinggal sisa jelantah di jeriken hitam. Kalau kita nggak nemu garam minggu ini, daging tikus itu nggak bakal tahan dua hari."

Rizal tidak menjawab. Ia hanya meniup jempol kakinya yang lecet dan basah. Di zaman sekarang, hal kecil seperti jempol kaki yang membusuk karena jamur bisa membunuhmu lebih cepat daripada gigitan di leher.

Mereka menyebut mereka yang berjalan di luar sana sebagai mayat berjalan, walau Rizal lebih suka menyebut mereka bangkai malas. Mereka tidak lari seperti di film-film bioskop lama yang dulu pernah Rizal tonton di Plaza Depok. Mereka hanya terseret, kaku, dan lembap. Kalau udara Jakarta sedang terik, bau mereka menyengat sampai radius lima puluh meter. Tapi kalau hujan turun kencang seperti sore ini, bau itu menghilang, tergantikan oleh aroma tanah basah dan selokan meluap.

Itulah yang membuat hujan menjadi berbahaya.

Rizal berdiri, meraih pipa besi sepanjang satu meter yang ujungnya diasah miring di atas batu asah. Ia menyampirkan tas kain di bahunya. "Gua mau melipir ke apotek depan gang. Jangan buka palang pintu sampai gua ngetok tiga kali pelan, satu kali kencang."

Aji mengangguk, masih menempelkan telinganya ke speaker radio yang bisu.

Langkah Rizal melintasi lorong toko terasa berat. Pintu belakang dibuka sedikit, cukup untuk meloloskan tubuhnya yang makin kurus. Gang sempit di belakang ruko sudah berubah jadi rawa kecil berlumpur. Air menggenang setinggi mata kaki, berwarna cokelat pekat bertabur sampah plastik busuk.

Di bawah guyuran hujan, gang itu tampak lengang. Namun Rizal tahu betul, ketenangan di kota mati ini selalu bohong. Di balik ruko catu daya yang roboh, ada tiga bangkai kaku yang tersangkut di tiang listrik. Kulit mereka sudah berwarna abu-abu kehijauan, terkelupas di sana-sini oleh air hujan dan gigitan lalat daging. Lalat-lalat itu adalah satu-satunya makhluk hidup yang makin subur di sini. Mereka bertelur di luka-luka busuk, membuat belatung menggeliat di dalam lubang mata atau tenggorokan yang bolong.

Rizal berjalan mepet ke dinding. Sepatunya mengencak air perlahan. Setiap kali ia melangkah, ia menghitung. Satu, dua, tiga, empat. Pada hitungan ke-sebelas, ia berhenti tepat di pintu kaca apotek yang sudah pecah berantakan.

Bagian dalam apotek baunya kencing kucing dan kertas basah. Rak-rak kayu sudah miring, obat-obatan berhamburan di lantai yang dipenuhi pecahan kaca. Manusia yang panik lima tahun lalu sudah mengambil semua obat batuk, antibiotik, dan vitamin. Tapi Rizal tahu apa yang dicarinya. Orang-orang yang panik biasanya lupa memeriksa laci paling bawah di balik meja kasir.

Rizal berlutut, mengabaikan lutut kirinya yang ngilu. Tangannya meraba-raba kegelapan laci. Jaring laba-laba menempel di jemarinya. Ada botol alkohol 70 persen yang sudah menguap separuh, dua bungkus kapas, dan sebuah botol kecil minyak kayu putih.

Rizal tersenyum tipis. Penemuan besar untuk hari ini.

Saat ia hendak berdiri, sebuah bunyi serak terdengar dari balik tirai kamar mandi di belakang meja kasir. Bunyi seperti dahak kental yang ditarik dari tenggorokan rusak.

Tirai plastik lusuh itu tersingkap. Sebuah figur melangkah keluar. Dulu, mungkin dia seorang apoteker perempuan—terlihat dari sisa-sisa jas putih yang kini sudah koyak dan menghitam oleh darah kering. Rahang bawahnya miring, tergantung hanya pada selembar otot yang hampir putus, memperlihatkan deretan gigi kotor dan lidah yang sudah membusuk kaku.

Mayat itu tidak menjerit. Mereka tidak pernah menjerit. Dia hanya menyapu udara dengan tangannya yang kurus kerontang, jari-jarinya menekuk licin, melangkah limbung menerjang Rizal.

Rizal tidak berteriak. Bertahun-tahun hidup bersama bangkai mengajarinya bahwa teriakan cuma membuang oksigen dan mengundang bangkai lain. Ia melangkah mundur sedikit, membiarkan serangan lambat itu meleset. Saat dada mayat itu berada sejajar dengan jangkauannya, Rizal mendorong pipa besinya kencang-kencang ke arah leher bawah, tepat di celah tulang selangka.

Ujung besi yang runcing menembus daging yang sudah lunak bagai pepaya busuk. Mayat itu tersentak, tangannya mencakar udara tipis. Rizal menahan bobot tubuh mayat itu yang memburu ke depan, lalu memutar ujung pipa besi dan menghentakkannya ke samping hingga tengkorak itu terbentur keras ke sudut meja kasir yang terbuat dari beton.

Bunyi berkeretak tumpul bergema di ruangan sempit itu. Badan kaku itu ambruk seketika, menimpa tumpukan kardus obat yang lapuk. Tidak ada darah segar yang mengalir, hanya cairan pekat berwarna hitam keabu-abuan yang merembes pelan ke lantai keramik.

Rizal bernapas terengah-engah. Napasnya beruap kencang di udara basah. Ia menyapu keringat di dahi dengan lengan bajunya, lalu berjongkok untuk menyeka pipa besinya pada kain jas putih milik mayat itu.

Ia melihat wajah mayat itu sebentar. Pipi kirinya sudah habis digerogoti belatung, tapi di lehernya masih menggantung sebuah kalung perak kecil dengan liontin bentuk hati. Rizal tidak menyentuhnya. Ia tidak butuh kenangan orang asing. Kenangan cuma bikin kepala berat dan tangan ragu-ragu.

Rizal memasukkan botol minyak kayu putih ke dalam tasnya, lalu berbalik meninggalkan apotek.

Hujan di luar makin lebat. Di sepanjang jalan utama yang berjarak seratus meter dari gang, nampak siluet lima atau enam bangkai berjalan perlahan tanpa arah, terseret air bah yang mengepung trotoar. Mereka tampak seperti bayangan hitam yang kehilangan pemiliknya.

Rizal kembali ke toko kelontong, mengetok palang kayu sesuai kode. Tiga kali pelan, satu kali kencang.

Selot pintu bergeser. Aji menyambutnya dengan wajah pucat, tetapi matanya berbinar saat melihat botol kecil yang dikeluarkan Rizal dari tas.

"Minyak kayu putih?" bisik Aji.

"Lumayan buat gosok dada lu yang makin bengek," kata Rizal sambil melempar tasnya ke atas meja kayu. Ia duduk di kursi plastik yang sudah retak, melepas sepatu botnya, dan membiarkan kakinya diudara-udarakan.

Aji membuka tutup botol itu dan menghirup aromanya dalam-dalam. Untuk sejenak, wajah anak muda itu tampak tenang, seolah aroma cengkeh dan eucalyptus bisa membawanya kembali ke kamar tidurnya sepuluh tahun lalu, sebelum dunia berubah menjadi tempat pembuangan bangkai.

"Di luar makin banyak?" tanya Aji pelan.

"Biasa. Nanti kalau hujan reda, mereka ngumpul lagi dekat tempat sampah pasar," jawab Rizal sambil menyalakan puntung rokok terakhir yang tembakaunya sudah agak lembap. Ia menyedotnya dalam-dalam, merasakan asap murah itu membakar tenggorokannya.

Mereka duduk berdampingan di dalam kegelapan ruko yang berbau karbol. Di luar, suara hujan terus menghantam atap seng dengan irama yang monoton. Lalat-lalat daging beterbangan di luar jendela yang terpaku rapat, menunggu hujan berhenti dan matahari terbit untuk melanjutkan pesta mereka di atas tanah yang tak lagi dimiliki manusia.

Rizal memejamkan mata. Esok hari mereka harus mencari garam dan solar. Namun untuk malam ini, selama atap seng tidak bocor dan minyak kayu putih masih beraroma tajam, hidup masih bisa ditahan sedikit lebih lama.