Jeritan di Antara Asap dan Abu

 


Langit di atas Desa Lembah Jati malam itu tidak pernah benar-benar gulita. Warna oranye membara melapisi cakrawala, memancarkan cahaya gaib yang menakutkan dari arah rimba raya. Sudah tiga bulan hujan enggan turun. Tanah gambut mengering hingga merekah, daun-daun jati meranggas menjelang jelaga, dan angin kemarau bertiup membawa hawa panas yang membakar tenggorokan. Namun, tidak ada yang menyangka bahwa kehampaan musim kering itu akan berubah menjadi neraka jahanam dalam hitungan jam.

Bagi Mak Salmah, kebahagiaannya sangat sederhana. Kebahagiaan itu terkumpul dalam diri Aris, putra tunggalnya yang baru berusia tujuh tahun. Aris adalah anak yang riang, bertubuh kecil dengan mata bulat yang selalu berbinar setiap kali melihat kupu-kupu hinggap di pekarangan rumah kayu mereka. Rumah sederhana itu berdiri di pinggir hutan, dikelilingi pepohonan tua yang biasanya memberikan keteduhan. Hari itu, Mak Salmah meninggalkan Aris yang sedang tertidur lelap di kamar belakang setelah lelah bermain. Mak Salmah berjalan menuju sumur desa yang berjarak beberapa ratus meter untuk mengambil persediaan air terakhir yang tersisa.

Namun, ketenangan sore itu mendadak pecah oleh jeritan histeris warga.

"Kebakaran! Kebakaran hutan! Angin kencang mengarah ke kampung!"

Suara teriakan bertubi-tubi menyatu dengan gemuruh dahsyat dari arah utara. Mak Salmah melepaskan ember kayunya hingga terhempas ke tanah. Air sedikit yang dikumpulkannya terserap habis oleh tanah kering dalam sekejap. Ketika ia menengadah, matanya menangkap pemandangan yang mengerikan: lidah-lidah api raksasa menjulur dari pucuk-pucuk pohon, menari-nari liar ditiup angin kencang. Kebakaran yang bermula dari pembersihan lahan secara liar di ujung hutan kini meloncat cepat, melahap semak belukar yang kering kerontang.

"Aris!" jerit Mak Salmah, suaranya tenggelam dalam kepanikan warga yang berlarian menyelamatkan diri.

Wanita berusia empat puluh tahun itu berlari melawan arus manusia. Debu dan asap hitam tebal menggelapkan pandangan. Bau hangus yang menyengat langsung membakar hidungnya, membuat napasnya sesak dan dada terasa dihantam benda tumpul. Orang-orang berteriak melarangnya kembali ke arah pinggir hutan, namun bagi Mak Salmah, tidak ada dunia yang berarti tanpa anak laki-lakinya.

Ketika Mak Salmah sampai di pekarangan rumahnya, pekarangan itu sudah menjadi lautan api. Pohon rambutan di depan rumah telah berubah menjadi obor raksasa. Asap tebal menggulung-gulung keluar dari jendela dan atap rumbia yang mulai runtuh dimakan api. Dinding-dinding kayu meratap, berderit keras sebelum roboh satu per satu.

"Aris! Aris! Buka matamu, Nak! Ibu di sini!"

Mak Salmah menerobos kobaran panas yang menyengat kulitnya. Ia melangkah menuju teras yang mulai membara. Udara di sekitarnya begitu panas hingga rambutnya layu dan pakaiannya terasa terbakar. Namun, sebelum kakinya sempat menyentuh tangga kayu yang sudah rata oleh api, sebuah lengan kuat mencengkeram bahunya dari belakang. Pak Saman, tetangganya, menyeret Mak Salmah mundur secara paksa.

"Lepaskan aku, Saman! Anakku di dalam! Aris masih di dalam!" Mak Salmah memberontak, mencakar, dan memukul dada Pak Saman dengan sisa tenaga yang ia miliki.

"Tidak bisa, Mak! Rumah itu sudah runtuh! Api terlalu besar, kita akan mati!" bisik Pak Saman dengan suara bergetar, matanya sendiri berkaca-kaca menatap rumah kayu yang kini rubuh diterjang kobaran merah pekat.

"Tidak! Aris! Aris!"

Jeritan Mak Salmah melengking membelah gemuruh api yang melahap apa saja di depannya. Jeritan itu bukan lagi sekadar suara manusia, melainkan jeritan keputusasaan seorang ibu yang nyawanya dicabut paksa dari raganya. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tatkala atap kamar Aris ambruk, dihantam batang kayu besar yang terbakar hebat. Percikan api membumbung tinggi ke udara, seolah-olah mengejek penderitaan yang tak tertahankan di tanah.

Malam itu, Desa Lembah Jati berubah menjadi panggung duka. Warga mengungsi ke posko darurat di balai desa, sementara para petugas pemadam kebakaran dan relawan berjuang memadamkan lidah api yang mengamuk. Namun bagi Mak Salmah, waktu seakan berhenti tepat di depan rumahnya yang hangus. Ia terduduk di atas tanah berdebu, tidak bergerak, tidak pula menjawab ketika orang-orang mencoba menenangankannya. Matanya kosong menatap ke kegelapan asap yang terus mengepul.

Keesokan harinya, ketika fajar menyingsing dengan samar di balik kabut asap yang masih pekat, api akhirnya berhasil ditiup padam oleh sisa-sisa angin dan perjuangan tanpa henti para relawan. Yang tersisa dari hutan dan permukiman di pinggirannya hanyalah bentangan tanah hitam yang mati. Batang-batang pohon berdiri kokoh namun hitam legam, mirip patung-patung penderitaan tanpa daun.

Mak Salmah berjalan menyeret kakinya yang melepuh menuju bekas tapak rumahnya. Tim SAR dan warga berusaha menahannya, namun langkah wanita itu tidak terhentikan. Tatapannya tertuju pada tumpukan abu dan arang yang masih mengeluarkan asap tipis.

Di antara puing-puing kamar belakang yang rata dengan tanah, seorang relawan menemukan sesuatu. Di bawah runtuhan lemari kayu yang tersisa setengah, terdapat gundukan jelaga dan abu. Di sana, di antara reruntuhan yang menghitam, terbaring tubuh kecil yang sudah tak bernyawa, terbungkus sisa-sisa selimut kesayangannya.

Mak Salmah berlutut di atas abu panas. Ia tidak merasakannya lagi. Tangan fisiknya yang gemetar merengkuh tubuh mungil yang kini tak bernyawa itu ke dalam pelukannya. Bau hangus menggantikan aroma harum tubuh Aris yang biasa ia cium setiap pagi sebelum berangkat ke ladang.

Lalu, tangisan itu pun pecah.

Bukan tangisan biasa, melainkan histeria duka yang merobek kesunyian rimba yang telah mati. Air mata Mak Salmah menetes deras, mengalir melintasi pipinya yang berlepotan jelaga hitam, membasahi abu dingin pada wajah anak tercintanya. Suara tangisnya merambat di antara batang-batang pohon yang hangus, menjadi satu-satunya suara yang tersisa di tengah lanskap kehancuran itu.

"Bangun, Nak... Ibu sudah kembali membawa air... Ibu di sini, Aris..." bisiknya di antara isak tangis yang menyesakkan dada. Ia memeluk erat jasad kecil itu, seolah-olah kehangatan tubuhnya mampu mengembalikan detak jantung Aris yang telah terhenti.

Ibu mana yang sanggup menerima kenyataan bahwa buah hatinya tewas terpanggang oleh kerakusan dan kelalaian manusia? Hutan yang terbakar bukan sekadar pepohonan dan semak belukar yang hangus; kebakaran itu telah merenggut masa depan, tawa, dan separuh jiwa seorang ibu. Di tanah yang kini gundul dan seram itu, Mak Salmah terus meratapi takdirnya. Tangisannya menjadi monumen kelam atas tragedi kebakaran hutan—sebuah pengingat yang takkan pernah padam bahwa di balik setiap asap yang membubung ke langit, ada nyawa yang melayang dan hati seorang ibu yang hancur berkeping-keping untuk selamanya.