Hujan mereda menjadi tiris-tiris halus yang membekukan kulit. Di atas lantai keramik balkon klinik gigi yang pecah, bau cuka dan jamur beradu dengan aroma amis darah busuk yang mengepul dari tubuh bekas dokter pemilik klinik. Rizal berbaring telentang, napasnya berlarat-larat bagai seng diikat kawat yang ditarik paksa. Demamnya bukan lagi sekadar panas dingin; kepalanya serasa dihantam martil saban kali jantungnya memompa darah ke kaki kirinya yang membengkak hitam bagai terong busuk.
"Mas... Mas Rizal, tahan," bisik Aji. Tangan anak muda itu gemetar hebat saat menyeka dahi Rizal dengan sisa lap kain yang agak kering. "Gua bongkar laci di dalam dulu, siapa tahu ada alkohol atau antiseptik yang ketinggalan."
"Jangan... banyak bergerak, Ji," celoteh Rizal parau, matanya menatap langit-langit balkon yang penuh jaring laba-laba basah. "Di bawah... mereka masih ngumpul."
Aji tak mendengarkan. Ia merayap masuk lewat pintu kaca balkon yang pecah. Di dalam kamar periksa yang gelap gulita, bau obat-obatan tua bercampur cacing mati terasa begitu pekat. Namun sebelum tangan Aji sempat menyentuh laci meja kayu di sudut ruangan, lantai kayu lantai dua itu berderit hebat.
Bukan berderit karena tiupan angin. Ada beban berat yang merayap dari arah tangga melingkar di dalam klinik.
Srekk... srekk...
Aji membeku. Sorot senter kepalanya yang meredup menangkap dua bayangan kaku merayap naik dari lantai satu. Dua mayat hidup—yang satu masih mengenakan celana kain bekas perawat, yang satu lagi hanya bersisa separuh badan dengan usus terurai yang mengering di atas anak tangga. Mereka tidak bersuara, hanya lidahnya yang hitam terjulur keluar, mengecap udara hangat yang ditinggalkan Aji.
Aji mundur pelan-pelan, matanya tak berkedip. Tetapi tumit sepatunya menghantam potongan botol Kaca yang berserakan.
PRANG!
Dua bangkai itu mendongak bersamaan. Tanpa raungan, mereka mempercepat rangkakannya, Jemari kaku mereka mencakar anak tangga kayu dengan kecepatan yang membakar kuduk.
"Mas Rizal!" jerit Aji spontan. Ia berlari mundur ke arah balkon, menendang pintu kaca hingga terhempas kencang.
Rizal memaksakan matanya terbuka lebar. Rasa sakit di kakinya mendadak hilang, tergantikan oleh sengatan adrenalin murni. Dengan sisa tenaganya, ia meraih potongan besi siku bekas jemuran yang tadi dipakai Aji. Ketika mayat perawat pertama merangsek keluar lewat celah pintu kaca, Rizal menancapkan ujung besi siku itu tepat di sela rahang bawahnya, mendesaknya hingga tersangkut di bingkai pintu.
"Aji, jeriken solar!" teriak Rizal, suaranya hampir memutus urat lehernya sendiri. "Siram ke tangga!"
Aji bergerak bagai disambar petir. Ia menyambar jeriken merah di sudut balkon, membuka tutupnya dengan gigi, lalu menerobos masuk kembali ke dalam ruangan. Cairan solar yang berbau menyengat disiramkannya secara liar ke atas anak tangga kayu dan ke tubuh mayat separuh badan yang hampir menggapai kakinya.
Mayat itu licin seketika, tergelincir mundur dua anak tangga, tetapi tangannya masih menggapai-gapai liar.
"Mana pemantik lu, Ji?!"
"Hilang waktu melompat tadi, Mas!" jerit Aji histeris, jemarinya mengaduk-aduk sakunya yang robek hanya untuk menemukan kekosongan.
Di luar ruko, suara kecipak air got di gang bawah mendadak berubah menjadi gemuruh kencang. Suara benturan botol pecah dan jeritan Aji tadi rupanya telah memancing bangkai malas dari tiga blok sekitar. Puluhan, mungkin ratusan dari mereka kini berdesakan di bawah balkon, memanjat tiang-tiang kanopi besi ruko yang sudah miring. Pintu pembatas balkon bergetar hebat saat tangan-tangan busuk dari bawah mulai menggapai-gapai ujung terali.
Mereka terkepung total. Di dalam ada dua bangkai merayap di atas genangan solar, di luar ada gelombang mayat yang memanjat dinding bagai semut rangrang.
KRAKK!
Besi pembatas balkon tempat Rizal bersandar mulai bengkok ke luar. Rizal terlempar ke depan, dadanya menghantam ubin basah. Pandangannya memutih. Rasa panas demamnya seolah membakar seluruh jaringan otaknya. Ia menatap Aji yang berdiri gemetar di tengah ruangan dengan jeriken kosong. Ini akhirnya, pikir Rizal. Setelah bertahun-tahun menghirup bau bangkai dan memakan tikus asin, mereka akan mati di klinik gigi tua yang tak bernama.
Tiba-tiba, sebuah raungan keras membelah udara malam.
Bukan deru genset tua mereka yang sumbang. Ini adalah raungan mesin diesel delapan silinder bertransmisi berat yang meraung brutal dari ujung lorong pasar.
VROOOMMM!
Cahaya putih bertenaga ribuan lumen mendadak menyapu seluruh permukaan ruko, begitu silau hingga membuat pandangan Rizal yang kabur menjadi makin buta. Suara tembakan beruntun yang berat dan teratur meletup dari kejauhan.
TAT-TAT-TAT-TAT-TAT!
Suara peluru berkaliber besar menghantam daging basah dan beton bergema membentur dinding-dinding gang. Kepala-kepala mayat di bawah balkon runtuh satu per satu bagai pepaya matang yang dihantam kayu. Darah hitam dan cairan otak menyembur ke mana-mana, membilas genangan air hujan di jalanan.
"Ada pergerakan di lantai dua! Dua target manusia!" sebuah suara keras memancar dari pengeras suara megapon, bergema dingin dan mekanis.
Sebuah truk taktis berlapis plat besi tebal dengan roda-roda gerigi raksasa menerobos benteng sampah di mulut gang. Di atas atap truk itu, dua orang berseragam hitam rapat dengan helm pelindung dan senapan serbu otomatis bergerak dengan presisi yang mengerikan. Setiap tembakan mereka menyasar tepat di tengah tengkorak bangkai-bangkai yang memanjat ruko.
"Tangga lipat, turunkan!" teriak salah seorang dari mereka lewat radio.
Sebuah tangga besi bermekanisme hidrolik menjulur cepat dari samping truk taktis, menghantam pembatas balkon klinik dengan bunyi BUNG! yang mantap. Dua figur berseragam hitam melompat gesit ke atas balkon. Salah satu dari mereka merangsek ke dalam ruangan, menembak kepala mayat perawat yang tersangkut di pintu kaca hanya dengan satu letupan teredam.
Pfft!
Mayat itu ambruk seketika.
Prajurit kedua berlutut di samping Rizal, menekan leher Rizal dengan dua jarinya yang terbungkus sarung tangan taktis tebal. Matanya di balik kaca helm menatap kaki Rizal yang membengkak parah.
"Infeksi lanjut. Denyut nadi lemah, demam di atas empat puluh," ucap prajurit itu dingin melalui mikrofon helmnya. "Satu korban butuh penanganan medis darurat, satu anak-anak kondisi stabil. Evakuasi sekarang!"
Sebelum Rizal sempat bertanya siapa mereka atau dari mana mereka datang, prajurit itu merengkuh tubuhnya dengan gampang, memangkunya seolah berat badan Rizal tak lebih dari karung beras kosong. Aji ditarik oleh prajurit kedua, didorong pelan tapi tegas menuju tangga hidrolik yang terhubung ke atas truk.
"Ransel gua... garamnya..." celoteh Aji gagap, matanya menatap bingung pada kerumunan mayat di bawah yang kini tewas mengenaskan dalam bantaian peluru lima detik tadi.
"Ambil barang penting kalian, cepat!" bentak prajurit itu pendek. Aji menyambar tas kain dan sisa jeriken solar dengan tangan gemetar, lalu memanjat tangga hidrolik secepat yang ia bisa.
Mereka dilemparkan masuk ke dalam kabin belakang truk taktis yang tebal dan berbau minyak senjata serta cairan antiseptik murni. Pintu besi tebal dibanting rapat dari luar dengan bunyi JLEK yang mengunci kedap udara. Suara raungan mayat dan deru hujan di luar mendadak sirna, tergantikan oleh dengung pendingin udara dan denyut mesin diesel yang stabil.
Seorang petugas medis berseragam steril langsung memotong celana kain Rizal menggunakan gunting khusus. Botol infus dipasang di lengan Rizal dalam hitungan detik.
Rizal terbaring di atas brankar besi yang dingin. Dari balik masker oksigen yang dipasangkan ke wajahnya, ia menghirup udara murni yang sudah lama tak pernah dirasakannya—udara tanpa aroma bangkai, tanpa bau karbol murah, dan tanpa dengung lalat daging.
Ia menoleh pelan ke arah Aji. Anak muda itu terduduk di sudut kabin, masih memeluk tas kain berisi garam kasarnya erat-erat, matanya menatap tidak percaya pada lampu LED putih yang terang benderang di langit-langit truk.
Truk taktis itu bergerak maju, melindas sisa-sisa bangkai di bawah rodanya dengan getaran halus. Rizal memejamkan matanya yang berat saat cairan antibiotik dingin mulai mengalir masuk ke dalam pembuluh darahnya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun berlari di antara malam dan kematian, Rizal tahu ia bisa tertidur tanpa perlu takut tidak bangun lagi besok pagi.
