Suara deru mesin diesel di balik dinding baja tebal terhenti bersamaan dengan hentakan halus roda-roda raksasa. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, udara yang dihirup Rizal tak lagi berbau bangkai membusuk atau got meluap, melainkan aroma tajam klorin, alkohol medis, dan kabut pendingin udara yang membuat dadanya terasa dingin.
Sinar lampu neon putih yang menusuk mata menyambut mereka ketika pintu belakang truk taktis dibuka dari luar. Rizal diusung di atas brankar lipat oleh dua petugas bermasker medis tebal, sementara Aji berjalan mengekor di sampingnya, memeluk erat tas kain berisi garam kasar dan jeriken solar merah yang kini tampak seperti rongsokan purba di antara kemewahan peradaban bersenjata ini.
Mereka berada di dalam sebuah hangar beton raksasa—bekas gudang logistik yang kini disulap menjadi Zona Transit Karantina. Di sekeliling hangar, tumpukan kawat duri dan barikade baja berdiri kokoh, dijaga oleh prajurit-prajurit berseragam taktis serba hitam dengan senapan serbu tergantung di dada.
"Masuk ke tenda medis dua! Sterilisasi luka sekarang!" perintah seorang dokter wanita berambut pendek dengan suara tegas di balik masker.
Di dalam tenda medis bertulang besi, Rizal dibaringkan di atas ranjang periksa bersprei putih bersih. Seorang perawat pria tanpa banyak bicara menyuntikkan cairan bius lokal ke sekitar jempol kakinya yang membengkak ungu. Dalam hitungan menit, rasa panas dan denyut nyeri membakar yang telah menyiksanya berminggu-minggu perlahan melarut menjadi rasa kebas yang menenangkan.
Rizal memejamkan mata, mengembuskan napas panjang. Mengamati perawat yang dengan tenang membersihkan jaringan busuk di jempol kakinya, mencuci lukanya dengan cairan antiseptik, lalu membungkusnya dengan perban kasa tebal yang rapi, rasanya seperti mimpi di siang bolong. Tidak ada kejaran waktu, tidak ada dengung lalat daging yang mengancam, dan tidak ada keharusan untuk memegang pipa besi.
Di sudut tenda, Aji duduk di atas bangku lipat. Seorang prajurit menyodorkan dua cangkir kaleng berisi teh manis hangat yang asapnya mengepul halus, bersama dua piring ransel tentara berisi nasi tim dan daging kornet gurih.
"Makan," kata prajurit itu pendek. "Kalian aman di sini. Benteng Sektor Empat punya dinding beton tiga meter dan dua puluh titik menara tembak."
Aji menatap cangkir teh hangat di tangannya seperti melihat tumpukan emas. Jemarinya yang kotor oleh jelantah dan lumpur meraba pinggiran seng cangkir itu, merasakan hangat yang merambat perlahan ke telapak tangannya. Ketika ia menyesap teh manis itu, matanya berkaca-kaca. Rasa manis murni yang sudah bertahun-tahun tak pernah menyapa lidahnya membuat tenggorokannya seketika tercekat.
"Mas Rizal... tehnya hangat," bisik Aji, suaranya bergetar menahan tangis yang akhirnya pecah pelan. Ia mengunyah kornet dan nasi tim itu dengan serakah, merasakan nikmatnya makanan manusia yang sesungguhnya—bukan lagi daging tikus liar yang diamplas garam kasar.
Rizal menerima cangkir tehnya, menyesapnya perlahan. Rasa hangat mengalir turun ke lambungnya yang kosong, membawa gelombang kenyamanan yang membuat seluruh otot tubuhnya yang tegang sejak dari ruko mendadak rileks. Untuk beberapa saat, di dalam tenda yang berbau klorin dan teh hangat ini, dunia terasa normal kembali. Ia bisa menyandarkan punggungnya di ranjang empuk tanpa perlu menajamkan telinga mendengar suara gesekan kuku di balik pintu.
Namun, kedamaian di zaman mayat hidup selalu punya harga yang mahal.
NONG! NONG! NONG!
Suara sirene bahaya berfrekuensi tinggi mendadak melengking, membelah keheningan hangar karantina. Lampu neon putih di langit-langit tenda berubah menjadi kedipan warna merah darah yang menyilaukan.
“Peringatan! Pelanggaran perimeter di Gerbang Barat! Tiga puluh unit merangsek barikade kawat! Tim Alpha dan Bravo segera ke posisi!” suara bariton dari pengeras suara umum bergema, diiringi oleh derap langkah ribuan sepatu lars dan letupan senapan otomatis yang mulai terdengar beruntun di luar hangar.
TAT-TAT-TAT-TAT! BUM!
Guncangan ledakan granat menggoyangkan tiang-tiang tenda medis. Cangkir teh di tangan Aji bergetar, menumpahkan cairan manis itu ke lantai beton. Dokter dan para perawat di dalam tenda tidak panik, melainkan bergerak cepat secara mekanis—menyambar senapan pelindung yang tergantung di sudut tenda dan mengokangnya dengan bunyi CKLAK yang dingin.
"Tetap di ranjang kalian!" bentak dokter wanita itu sambil menyampirkan senapan otomatis ke bahunya. "Satu kelompok bangkai menabrak pagar karena tergiur suara mesin truk evakuasi kalian tadi!"
Rizal dan Aji saling pandang. Rasa rileks yang baru mereka nikmati beberapa menit lalu menguap seketika, digantikan oleh sengatan ketakutan murni yang sudah menjadi bagian dari naluri bertahan hidup mereka.
Tiba-tiba, dinding kain tenda bagian belakang koyak!
Sesosok bangkai berbadan raksasa—bekas pekerja konstruksi yang masih mengenakan rompi oranye robek dan helm kuning retak—menerobos masuk dengan sisa kawat duri menancap di lehernya. Matanya yang memutih menatap lurus ke arah ranjang Rizal. Bau busuk daging terbakar yang familier langsung memenuhi udara steril tenda.
Dokter wanita itu berbalik dan menembak, tetapi pelurunya hanya menghantam dada mayat itu tanpa menghentikan lajunya. Mayat itu merangsek maju, merobohkan meja peralatan medis hingga botol-botol antiseptik pecah berantakan di lantai.
Dalam kepanikan itu, Aji tidak lagi menjadi anak kecil yang menangis di atas atap seng.
Dengan refleks cepat yang terasah dari marabahaya berturut-turut, Aji menyambar jeriken solar merah miliknya yang tergeletak di bawah bangku. Tanpa ragu, ia menghantamkan sisi tebal jeriken berisi sisa solar itu ke bagian samping helm kuning mayat tersebut.
BUK!
Benturan keras itu membuat mayat raksasa itu limbung ke samping. Di saat yang sama, Rizal yang berada di atas ranjang menyambar botol cairan alkohol 96 persen yang tersisa di meja sampingnya, lalu melempar dan memecahkannya tepat di dada mayat yang berlumuran solar itu.
Prajurit penjaga yang baru masuk lewat pintu depan tenda langsung mengambil alih, menyemburkan tembakan tiga putaran tepat di tengah kening mayat tersebut.
Pfft! Pfft! Pfft!
Tubuh raksasa itu ambruk menghantam lantai, kepalanya pecah menumpahkan cairan hitam di atas kain sprei putih yang baru saja diganti.
Derap tembakan di luar hangar perlahan-lahan mulai mereda, digantikan oleh suara radio taktis yang melaporkan bahwa perimeter telah kembali dikuasai. Asap mesiu tipis merayap masuk ke dalam tenda, bercampur dengan aroma teh hangat yang tumpah dan bau klorin.
Dokter wanita itu menurunkan senapannya, menatap Aji dan Rizal bergantian dengan mata melebar, terpukau oleh reaksi cepat dua penyintas yang tak terlatih ini.
Rizal mengembuskan napas panjang, bersandar kembali ke bantalnya yang kini bernoda jelutung. Ia menatap Aji yang berdiri memegang jeriken solarnya dengan napas memburu, lalu menatap cangkir tehnya yang tersisa separuh.
Di dunia yang sudah hancur ini, benteng setebal apa pun tak pernah benar-benar bisa mengunci kematian di luar. Namun selagi teh hangat masih tersisa di dasar cangkir dan rasa asin kehidupan masih mengecap di ujung lidah, mereka tahu bahwa mereka akan selalu menemukan cara untuk selamat.
