Asap hitam itu mengepul pekat, merayap menelan langit sore yang tadinya jingga tenang. Di sudut perkampungan padat penduduk itu, jeritan panik memecah kesunyian. Rani yang sedang menyuapi adiknya di teras rumah langsung membeku, tatapannya terpaku pada lidah api merah jahanam yang melahap atap rumah tetangga hanya berjarak tiga petak dari tempatnya berdiri.
"Rani! Ambil surat-surat penting!" teriak Ibu dari dalam rumah dengan suara bergetar hebat, kepanikan terpancar nyata di wajahnya yang pucat pasi.
Tanpa pikir panjang, Rani menyambar tas plastik berisi dokumen kependudukan dan ijazah sekolah. Hawa panas mulai menyengat kulit, berpadu dengan suara gemeretak kayu yang terbakar dan deru angin yang mempercepat amukan si jago merah. Orang-orang berlarian kesana-kemari membawa seadanya: ember air yang tumpah sebelum sampai sasaran, pakaian yang digendong seadanya, serta tangisan anak-anak kecil yang ketakutan.
Dunia seolah runtuh dalam hitungan menit. Tempat ia tumbuh, berbagi tawa, dan menghabiskan masa kecil kini berubah menjadi lautan api yang bising. Suara sirene mobil pemadam kebakaran akhirnya terdengar meraung di kejauhan, membawa secercah harapan di tengah keputusasaan yang mencekam.
Berdiri di atas tanah lapang pengungsian bersama ratusan warga lainnya, Rani memeluk adiknya erat-erat. Di hadapan mereka, sisa-sisa bangunan kini hanya tinggal arang dan abu yang membara pelan. Meski kehilangan tempat tinggal dan seluruh kenangan fisik masa lalu, melihat keluarganya selamat dalam dekapan hangat adalah satu-satunya hal yang membuat dada Rani kembali terasa lega di tengah malam yang dingin.